LILIEK DHARMAWAN
dari pesawat yang membawanya sampai di daratan Eropa, tepatnya di Jerman pada 12 Februari 2018. Ini kali kedua dia menginjakkan kaki ke luar negeri. Sebelumnya, ia telah merasakan perjalanan ke Thailand untuk tukar pengalaman dalam mengembangkan konsep one village one product (OVOP).
"Terus terang, saya juga tidak pernah bermimpi bisa menginjakkan kaki di negara-negara Eropa karena selain ke Jerman juga pergi ke Ceko. Saya ini orang desa sehingga tak pernah menyangka bisa ke Eropa, apalagi untuk memamerkan produk orang desa, yakni gula kristal atau gula semut," ungkap Nartam saat ditemui Media Indonesia di Kantor Koperasi Serba Usaha (KSU) Nira Satria di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) pada Jumat (7/9).
Difasilitasi Kementerian Perindustrian, ia berangkat mewakili KSU Nira Satria untuk memamerkan produk gula kristal dalam rangka pameran internasional terkemuka di dunia untuk produk makanan organik, yakni Biofach 2018 di Nuremberg, Jerman.
"Kami datang ke sana sengaja untuk memamerkan produk gula kristal organik. Selain mengenalkan, kami juga bertemu dengan buyer yang selama ini telah menjadi langganan kami sebab setiap dua bulan sekali kami memasok ke Jerman sebanyak 40 ton melalui jasa eksportir," katanya.
Menurut Nartam, gula kristal yang mampu menembus Eropa dan pasar lainnya seperti ke Amerika Serikat (AS) dan Asia merupakan produk organik. Produk organik yang dihasilkan telah bersertifikasi secara internasional dari Control Union (CU) Belanda. Karena itu, mereka harus konsisten tidak menggunakan bahan kimia, mulai budi daya pohon kelapa, panen, sampai proses pengolahan gula kristal.
"Jadi mulai dari pembudidayaan pohon kelapa, misalnya, tidak boleh ada pupuk kimia atau herbisida. Bahkan, tempat memasak juga harus terhindar dari kontaminasi bahan-bahan kimia. Dalam proses memasaknya, larutan yang semua adalah natrium bisulfit, digantikan dengan bahan alam, di antaranya adalah dengan daun slatri, kayu nangka, maupun cangkang buah manggis yang dicampur dengan kapur sirih," paparnya.
Produk gula kristal organik itulah yang harus terus dipertahankan supaya pasar luar negeri tetap terjaga. Setiap bulannya, untuk produk gula kristal yang diekspor ke luar negeri melalui eksportir mencapai kisaran 30 ton, sedangkan yang langsung dikirim KSU Nira Satria mencapai 5 ton.
Adapun, negara yang dituju selain AS dan Jerman ialah Spanyol, Meksiko,
Thailand, Singapura, dan Australia. Selain itu, juga ada pasar dalam
negeri, jumlahnya tidak terlalu besar hanya kisaran 1 ton per
bulan. Untuk mengirimkan produk yang dihasilkan, KSU Nira Staria
memanfaatkan perusahaan ekspedisi atau paket untuk mengantarkan pesanan. Tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga ke mancanegara.
"Kami sangat terbantu dengan adanya perusahaan ekspedisi. Tanpa mereka,
kami tentu akan bingung mengirim pakai apa. Salah satu yang menjadi
langganan koperasi adalah JNE Express. Sampai sekarang, kami tidak
pernah mengeluhkan pelayanannya. Sejauh ini produk yang kami kirimkan sampai ke tempat tujuan dengan selamat sehingga kosumen juga puas," tegasnya.
Nilai tambah
KSU Nira Satria kini telah beranggotakan 880 petani penderes. Mereka tersebar di delapan desa meliputi tiga kecamatan, yakni Cilongok, Karanglewas, dan Gumelar. Desa-desa di tiga kecamatan itu memang menjadi sentra petani penderes.
"Sampai sekarang, kami terus mendampingi mereka. Kami juga menyebar tim internal control system (ICS) dengan tujuan agar kualitas gula kristal organik tetap terkontrol," ujarnya.
Pembukaan pasar sampai ke luar negeri, khususnya ke Jerman, membawa dampak positif bagi anggota koperasi. Sertifikat Fair Trade yang dikantongi merupakan salah satu nilai plus bagi mereka.
Selain itu, buyer yang juga memiliki sertifikat Fair Trade bakal mengalokasikan 15% harga jual yang disisihkan sebagai bagian dari corporate social responsibility (CSR) atau sebesar Rp3.500 per kilogram (kg).
Dana tersebut dikembalikan kepada petani penderes dan warga untuk beasiswa anak petani, perbaikan sarana produksi, asuransi, perbaikan rumah ibadah, dan lainnya. Inilah nilai tambah yang dirasakan petani penderes yang tergabung dalam KSU Nira Staria.
Apalagi, lanjutnya, koperasi juga membagikan sisa hasil usaha (SHU)
setiap tahunnya. Untuk 2017, ada sekitar Rp60 juta yang dibagikan untuk para anggota koperasi.
Salah seorang petani penderes di Cilongok, Joned, 37, mengungkapkan
sebelum ada KSU Nira Satria, dirinya sangat bergantung kepada tengkulak
dalam menentukan harga sehingga harga kadang di bawah pasaran, tetapi
setelah menjadi anggota koperasi, ada perubahan cukup drastis. Kini,
harga gula kristal dihargai Rp13.500 hingga Rp14 ribu per kilogram (kg).
Harga tersebut jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan hanya memproduksi gula cetak yang kini harganya Rp10.500 per kg. "Setiap harinya saya setor ke koperasi. Tidak pasti jumlahnya, namun rata-rata sampai 5 kg. Kalau harga Rp14 ribu, maka setiap harinya bisa memperoleh Rp70 ribu. Bahkan, kadang sampai 7 kg sehingga bisa mendapatkan Rp98 ribu. Produksi berbeda-beda setiap harinya, tergantung dengan jumlah air nira yang dihasilkan pohon kelapa," kata Joned.
Pengurus KSU Nira Satria, Yanto, yang berasal dari Desa Kedungurang,
Kecamatan Gumelar, mengungkapkan pada awal pembentukan kelompok tidaklah
gampang, apalagi masuk menjadi anggota koperasi. "Dari dua orang dalam waktu tiga bulan, kemudian meningkat jadi tujuh orang selama satu tahun. Lambat laun, banyak perajin yang semua hanya memproduksi gula cetak, kini jadi gula semut sebab hasilnya jauh lebih baik," ujar Yanto.
Rangkul tengkulak
Proses perjalanan KSU Nira Satria sebetulnya tidak mudah karena awal
berdiri sudah banyak penolakan. Petani enggan membuat gula kristal,
apalagi waktu itu tercengkeram oleh tengkulak. Bertahun-tahun koperasi
bersaing dengan para tengkulak. Namun, pada titik tertentu, koperasi
merangkul para tengkulak untuk dijadikan pengepul.
"Kami merangkul mereka asalkan mengikuti alur koperasi. Hingga kini ada 23 mantan tengkulak yang masuk jaringan koperasi sebagai pengepul sebab dengan jumlah 880 petani, tidak mungkin mereka setor sendiri ke koperasi sehingga membutuhkan pengepul. Yang penting petani penderes tetap sejahtera karena harga yang ditawarkan koperasi tetap tinggi," katanya.
Sumber: https://mediaindonesia.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar