Rabu, 21 Agustus 2019

Banjarnegara Launching eksport Gula Semut


BANJARNEGARA-Pemkab Banjarnegara Selasa (26/8/14) melaunching eksport perdana gula semut  bekerjasama dengan Humanistisch Instituut voor Ontwikkelingssamenwerking (HIVOS)  dan  Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH). Launching ditandai dengan pemukulan kendi di truck container oleh Bupati Banjarnegara di halaman Kantor Kecamatan Susukan. Launching tersebut sekaligus untuk meningkatkan kepercayaan pasar atas kontinuitas produk gula kelapa semut kita. “Saat ini di Banjarnegara telah tersertifikasi pengolahan gula semut organik sejumlah 380 pengrajin dengan kapasitas produksi mencapai 15 ton perbulan. Produk ini akan kontinyu kita pasarkan termasuk eksportir Pusat Pengembangan Produk Rakyat (P3R) Purwokerto ke Amerika,” kata Kepala Bappeda Banjarnegara Setiawan.

Launching tersebut lanjut Setiawan juga sekaligus untuk meningkatkan harga jual. Harga gula cetak ditingkat pengrajin berkisar antara Rp. 7.000 sampai dengan Rp. 9.000 perkilogram sedangkan harga gula semut bisa mencapai Rp. 11.000 sampai dengan Rp.13. 000 perkilogram dengan proses yang hampir sama.

Saat ini terdapat kurang lebih 19.000 penderes kelapa di Banjarnegara dengan unit usaha rumah tangga sekitar 7.600 unit usaha dengan volume produksi nira kelapa mencapai 10.273 ton per tahun. Program peningkatan kualitas produksi gula kelapa di Banjarnegara sampai dengan tahun 2014 baru mampu mendampingi 830 pengrajin, 340 diantaranya aktif memproduksi gula semut organik dan 138 orang aktif menjadi anggota koperasi gula semut Nira Kamukten.

Kerja sama kemitraan antara Pemerintah Banjarnegara dengan HIVOS regional Asia Tenggara dan lembaga penelitian, pengembangan sumberdaya dan lingkungan (LPPSLH) untuk pengembangan sektor gula kelapa di Banjarnegara telah dilaksanakan  beberapa tahap  mulai dari penjajakan pada tahun 2011, Informasi, pencarian data, penandatanganan perjanjian kerjasama kemitraan.

Pada tahun 2014 juga dilakukan penguatan kelembagaan koperasi tahap penguatan kelembagaan koperasi serta sertifikasi produk gula semut organik oleh controlling unit (CU) Belanda yaitu halal dan organik.

“Tahun ini juga akan diperluas dan dikembangkan produk gula semut bersertifikasi ke lokasi yang mempunyai potensi pasar, fasilitasi pasar regional, nasional dan ekspor serta peningkatan budidaya kerjasama dengan Hutbun untuk rehabilitasi pohon,” lanjut Setiawan

Pada tahun 2015 nanti juga akan dilakukan perbaikan budidaya kelapa, pengembangan pasar, perluasan anggota koperasi dan kemandirian koperasi serta kesejahteraan petani penderas dan pengrajin gula kelapa.

Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo dalam sambutannya mengatakan Banjarnegara merupakan salah satu daerah penghasil gula kelapa (Gula Jawa) yang sangat potensial di Jawa Tengah. Terdapat kurang lebih 7.600 unit usaha gula kelapa di Banjarnegara tahun 2012 dengan volume produksi nira kelapa mencapai 10.273 ton per tahun.

Sejalan peningkatan pola konsumsi masyarakat, dewasa ini produksi gula kelapa tidak hanya terbatas pada gula kelapa cetak, namun berkembang dalam bentuk gula kelapa kristal (gula semut).

“Gula semut mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan gula cetak yaitu mudah larut karena bentuk Kristal dan daya simpan lebih lama, bentuk lebih menarik, pengangkutan dan  dan pengemasan lebih mudah, rasa dan aroma khas serta harus menjadi pertimbangan yaitu harganya lebih mahal sehingga meningkatkan  ekonomi petani gula kelapa.

Dari aspek gizi dan kesehatan menunjukan bahwa gula semut mempunyai keunggulan yakni mengandung sukrosa, mineral, protein dan asam organic yang cukup baik. Sifatnya yang alami (khas) dan aman bagi kesehatan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Hasil kajian di Amerika menunjukan bahwa penyumbang terbesar penyakit obesitas dan diabetes adalah gula pasir (tebu), hal ini merupakan peluang startegis bagi gula kelapa untuk menggantikan posisi gula tebu, karena hasil penelitian menunjukan bahwa gula kelapa termasuk jenis gula yang kadar glycimax index rendah (35) dibandingkan gula tebu (75) sementara kadar glycimax inex yang baik untuk kesehatan adalah 40.

“Kesadaran akan kesehatan yang tinggi masyarakat barat menjadikan peluang kita untuk eksport ke Amerika dan negara Eropa sangat  terbuka, masyarakat barat sudah menilai aspek gizi gula semut lebih baik dari dibandingakan mengkonsumsi gula kelapa atau gula tebu,” lanjut Sutedjo.(**anhar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar