Rabu, 21 Agustus 2019

GULA SEMUT Cita Rasa Alami dan lezat




Gula semut merupakan gula merah versi bubuk dan sering pula disebut orang sebagai Gula Kristal. Dinamakan gula semut karena bentuk gula ini mirip rumah semut yang bersarang di tanah. Bahan dasar untuk membuat gula semut adalah nira dari pohon Kelapa
Gula Semut, keberadaannya baru populer akhir-akhir ini, lain dengan gula putih yang begitu terkenal sejak lama di masyarakat.

Maka dari itu banyak masyarakat yang belum tahu dan masih bertanya – tanya tentang gula semut itu sendiri. Walaupun gula semut belum seterkenal dengan gula putih, tapi gula semut mempunyai kelebihan tersendiri dibanding gula putih, yaitu manfaat yang lebih dari gula semut itu sendiri.
Manfaat gula semut sangat banyak seiring naiknya tingkat kesadaran kita terhadap kesehatan, gula semut akan menanjak popularitasnya. Apalagi jika arah pasarnya dipertajam, pemanis yang berasal dari nira tanaman aren dan kelapa ini bukan tak mungkin akan digunakan orang sebagai pemanis sehat secara masal.

Gula Semut sangat cocok untuk penambah cita rasa manis baik itu makanan, minuman, atau jamu herbal. Gula semut juga aman dikonsumsi bagi penderita diabetes, karena gula semut sangat dianjurkan bagi penderita diabetes untuk menurunkan kadar gula darah yang tinggi. Penasaran dengan manfaat gula semut? Ingin tahu manfaat yang terkandung dalam gula semut bagi kesehatan? berikut ini adalah manfaat gula semut bagi kesehatan yang perlu anda ketahui.

1. Menjaga Kesehatan Sistem Pencernaan .
Gula semut mengandung inulin, yaitu salah satu jenis serat pangan yang berfungsi menjaga kesehatan usus, meningkatkan kekebalan tubuh, dan mencegah serta menyembuhkan diare.
2. Menurunkan Kolesterol Jahat
Kolesterol jahat merupakan musuh kesehatan yang harus diwaspadai, karena bisa mengakibatkan berbagai penyakit serius, seperti jantung koroner dan stroke. Gula semut memiliki kandungan fitonutrien, seperti flavonoid, polifenol dan antosianin, yang berperan dalam menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah.
3. Mencegah Diabetes
Sudah tidak diragukan, konsumsi gula pasir dapat meningkatkan risiko diabetes, mengingat gula tebu memiliki kandungan glikemik yang tinggi. Hal ini bisa dicegah dengan mengganti gula pasir dengan gula semut yang berkadar glikemik rendah. Karena itu, gula semut relatif aman dikonsumsi oleh para penderita diabetes.
4. Memperkuat Tulang
Gula semut memiliki kandungan kalsium yang cukup baik, sehingga mengonsumsi gula semut akan membantu menjaga dan memperkuat sendi, otot, dan tulang. Anda pun tidak perlu khawatir akan mengalami osteoporosis.
5. Menjaga Kesehatan Saraf dan Fungsi Otot
Salah satu kandungan mineral yang terdapat pada gula semut adalah magnesium. Mineral ini diperlukan tubuh untuk menjaga agar saraf dan otot dapat berfungsi dengan baik.

Harga Gula Semut Kelapa Kualitas Ekspor & Terbaik Di Indonesia

Harga Gula Semut Kelapa Kualitas Ekspor – Hallo sahabat Mister Exportir yang dicintai oleh bangsa dan negara ini, sebelumnya kami ucapkan terimakasih telah mengunjungi laman artikel jualan berikut ini. Terimakasih telah menyempatkan waktunya unuk dapat berkolaborasi bersama kami.

Kali ini, admin akan sharing beberapa informasi tentang komoditi ekspor yang paling hits saat ini dipasaran domestik maupun ekspor. Komoditi ini juga termasuk dalam kategori “over demand” lho sobat eksportir. Apa nama komoditinya? Ya, sesuai tema yang kita bicarakan yaitu gula semut kelapa kualitas ekspor.

 Tidak hanya itu, kami menjual produk gula semut kelapa (gula kelapa kristal) dengan harga yang sangat kompetitif dan hampir dibawah pasaran serta produk kami juga memiliki kualitas yang terbaik dan dapat menjamin kepuasan buyer atau client lokal maupun customer ekspor anda.

Sekilas Tentang Gula Semut Kelapa

Tahukah Kamu apa itu gula semut kelapa? Nah, seperti namanya. Gula semut kelapa merupaka gula kelapa dengan bentuk yang kecil-kecil layaknya semut. Tak hanya memiliki rasa yang manis, gula semut ini juga memiliki banyak manfaat. Ingin tahu lebih lengkap lagi? Simak artikel dibawah ini dengan seksama.


Selain itu, gula semut alias gula gula kelapa yang berbentuk serbuk ini juga memiliki kadar kalori yang rendah. Selain rendah kalori, beberapa kelebihan lain yang bisa didapat dari gula ini antara lain kuatnya rasa dan aroma manis yang khas, mudah larut dalam air, lebih tahan lama, serta dikemas dengan kemasan yang unik.
Saat ini sudah banyak tempat yang menjual gula semut, bahkan sudah ekspor ke beberapa negara. Selain sebagai pemanis alami, gula semut juga memiliki manfaat untuk kesehatan. Kandungan vitamin A, C, mineral dan protein dalam gula semut digadang mampu menjaga kesehatan mata, kulit, dan meregenerasi sel tubuh.

Harga Gula Semut Kelapa Kualitas Ekspor & International Certified, Terbaik di Indonesia!

Sahabat Mister Exportir yang kami hormati dan kami banggakan, kami menjual produk gula semut kelapa terbaik dari Indonesia dan memiliki kualitas super (Export Quality) yang mana telah terverifikasi dan telah diakui oleh FDA Amerika Serikat (USDA) serta juga telah diakui oleh Central Union sebagai produk gula semut yang telah melewati standarisasi kebutuhan negara Eropa.

Oleh karena itu, kami menawarkan produk gula semut kelapa kami dengan harga yang sangat kompetitif dan bersaing dipasar domestik atau ekspor yaitu sebagai berikut :

Deskripsi BarangSPEK BARANGHarga Per KGMin. Order 500 KGSMin. Order 5000 KGS Keatas
Gula Semut Kelapa Kristal- Gula Kristal Halus
- Terbuat dari Bahan Kelapa Terbaik
- Warna Kecokelatan.
- Murni, tidak ada bahan pengawet.
- Certified Internasional.
- Bebas Bahan Kimia (free chemical)
Rp. 38.500,- / KGRp. 37.000,- / KGRp. 35.000,- / KG

Untuk Informasi lebih lanjut mengenai pembelian produk gula semut kelapa kami, silahkan menghubungi bagian tim purchasing kami.

Kulonprogo Coba Campur Gula Semut Dengan Kopi


JogjaUpdate.com (22/3/17), Gula Semut merupakan salah satu produk andalan Kulonprogo yang banyak dijadikan oleh-oleh. Untuk memperluas pasar, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo mencoba inovasi mencampur gula semut dengan kopi. Uji coba inovasi ini dilakukan pada pelatihan ketrampilan pengrajin gula semut.

Menurut yang dirilis HarianJogja.com, pelatihan ketrampilan ini diadakan untuk pengrajin gula semut di Nglinggo Barat, Pagerharjo, Samigaluh. Diharapkan uji coba dari inovasi campuran gula semut dengan kopi ini dapat memperluas pasar dari gula semut. Sehingga lebih banyak masyarakat yang mengenal gula semut.

Kepala Dinas Perdagangan Kulonprogo, Niken Probo Laras mengatakan pelatihan dilakukan di daerah yang bakal dilalui jalur pengembangan bandara, Kawasan Strategis Pariwisata Nasiona (KSPN) Borobudur, dan Bedah Menoreh. “Pengrajin Samigaluh agar bisa memnafaatkan peluang yang tercipta melalui wirausaha dan produk yang semakin inovatif,” kata Niken.

Uji coba ini masih tengah mencari kombinasi yang tepat untuk pencampuran bahan-bahan. Dengan memanfaatkan nira aren sebagai bahn baku lokal dengan kopi. Selain kopi, dilakukan pula pengembangan gula semut sebagai bahan baku produk kombinasi jahe, kunir, dan kencur.
Gula semut ini memang unik, dibanding gula aren atau gula jawa biasa yang beredar dipasaran. Dinamakan gula semut karena bentuknya seperti hamparan semut. Warnanya merah sama seperti Gula Jawa dan sama-sama terbuat dari Nira Pohon Kelapa. Namun gula semut ini berbentuk butiran kecil-kecil menyerupai semut.

Banjarnegara Launching eksport Gula Semut


BANJARNEGARA-Pemkab Banjarnegara Selasa (26/8/14) melaunching eksport perdana gula semut  bekerjasama dengan Humanistisch Instituut voor Ontwikkelingssamenwerking (HIVOS)  dan  Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH). Launching ditandai dengan pemukulan kendi di truck container oleh Bupati Banjarnegara di halaman Kantor Kecamatan Susukan. Launching tersebut sekaligus untuk meningkatkan kepercayaan pasar atas kontinuitas produk gula kelapa semut kita. “Saat ini di Banjarnegara telah tersertifikasi pengolahan gula semut organik sejumlah 380 pengrajin dengan kapasitas produksi mencapai 15 ton perbulan. Produk ini akan kontinyu kita pasarkan termasuk eksportir Pusat Pengembangan Produk Rakyat (P3R) Purwokerto ke Amerika,” kata Kepala Bappeda Banjarnegara Setiawan.

Launching tersebut lanjut Setiawan juga sekaligus untuk meningkatkan harga jual. Harga gula cetak ditingkat pengrajin berkisar antara Rp. 7.000 sampai dengan Rp. 9.000 perkilogram sedangkan harga gula semut bisa mencapai Rp. 11.000 sampai dengan Rp.13. 000 perkilogram dengan proses yang hampir sama.

Saat ini terdapat kurang lebih 19.000 penderes kelapa di Banjarnegara dengan unit usaha rumah tangga sekitar 7.600 unit usaha dengan volume produksi nira kelapa mencapai 10.273 ton per tahun. Program peningkatan kualitas produksi gula kelapa di Banjarnegara sampai dengan tahun 2014 baru mampu mendampingi 830 pengrajin, 340 diantaranya aktif memproduksi gula semut organik dan 138 orang aktif menjadi anggota koperasi gula semut Nira Kamukten.

Kerja sama kemitraan antara Pemerintah Banjarnegara dengan HIVOS regional Asia Tenggara dan lembaga penelitian, pengembangan sumberdaya dan lingkungan (LPPSLH) untuk pengembangan sektor gula kelapa di Banjarnegara telah dilaksanakan  beberapa tahap  mulai dari penjajakan pada tahun 2011, Informasi, pencarian data, penandatanganan perjanjian kerjasama kemitraan.

Pada tahun 2014 juga dilakukan penguatan kelembagaan koperasi tahap penguatan kelembagaan koperasi serta sertifikasi produk gula semut organik oleh controlling unit (CU) Belanda yaitu halal dan organik.

“Tahun ini juga akan diperluas dan dikembangkan produk gula semut bersertifikasi ke lokasi yang mempunyai potensi pasar, fasilitasi pasar regional, nasional dan ekspor serta peningkatan budidaya kerjasama dengan Hutbun untuk rehabilitasi pohon,” lanjut Setiawan

Pada tahun 2015 nanti juga akan dilakukan perbaikan budidaya kelapa, pengembangan pasar, perluasan anggota koperasi dan kemandirian koperasi serta kesejahteraan petani penderas dan pengrajin gula kelapa.

Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo dalam sambutannya mengatakan Banjarnegara merupakan salah satu daerah penghasil gula kelapa (Gula Jawa) yang sangat potensial di Jawa Tengah. Terdapat kurang lebih 7.600 unit usaha gula kelapa di Banjarnegara tahun 2012 dengan volume produksi nira kelapa mencapai 10.273 ton per tahun.

Sejalan peningkatan pola konsumsi masyarakat, dewasa ini produksi gula kelapa tidak hanya terbatas pada gula kelapa cetak, namun berkembang dalam bentuk gula kelapa kristal (gula semut).

“Gula semut mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan gula cetak yaitu mudah larut karena bentuk Kristal dan daya simpan lebih lama, bentuk lebih menarik, pengangkutan dan  dan pengemasan lebih mudah, rasa dan aroma khas serta harus menjadi pertimbangan yaitu harganya lebih mahal sehingga meningkatkan  ekonomi petani gula kelapa.

Dari aspek gizi dan kesehatan menunjukan bahwa gula semut mempunyai keunggulan yakni mengandung sukrosa, mineral, protein dan asam organic yang cukup baik. Sifatnya yang alami (khas) dan aman bagi kesehatan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Hasil kajian di Amerika menunjukan bahwa penyumbang terbesar penyakit obesitas dan diabetes adalah gula pasir (tebu), hal ini merupakan peluang startegis bagi gula kelapa untuk menggantikan posisi gula tebu, karena hasil penelitian menunjukan bahwa gula kelapa termasuk jenis gula yang kadar glycimax index rendah (35) dibandingkan gula tebu (75) sementara kadar glycimax inex yang baik untuk kesehatan adalah 40.

“Kesadaran akan kesehatan yang tinggi masyarakat barat menjadikan peluang kita untuk eksport ke Amerika dan negara Eropa sangat  terbuka, masyarakat barat sudah menilai aspek gizi gula semut lebih baik dari dibandingakan mengkonsumsi gula kelapa atau gula tebu,” lanjut Sutedjo.(**anhar)

Manisnya Usaha Gula Semut Organik



Usaha jual beli gula semut organik telah ada sejak beberapa tahun yang lalu. Bisnis komoditi ini juga ‘manis’. Apalagi pangsa pasarnya bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di mancanegara.

Salah satu yang tergiur mendalami usaha gula semut adalah Amin Purwanto. Pemilik usaha CV Maju Jaya Abadi mengatakan, dirinya baru memulai usaha pada awal November 2014. “Saya mengawali bisnis ini dengan membeli produk gula semut organik dari warga Desa Banjarpanepen, Banjarnegara yang memang rata-rata masyarakat di desa ini merupakan pengrajin gula semut organik,” katanya.


Dia mengaku tertarik mengembangkan bisnis ini karena motif ekonomi dan juga sosial. Secara ekonomi jenis pemanis yang satu ini merupakan pemanis yang sangat dicari, terutama di pasar luar negeri. “Banyak calon pembeli tertarik produk gula semut organik Indonesia, selain karena harga yang lebih murah, kualitas produk juga baik,” ujarnya kepada Sinar Tani.
Dalam memasarkan produk, Amin mengaku menggunakan dua metode yaitu secara online dan offline. Pemasaran secara online ditujukan untuk buyer yang berasal dari luar negeri. Itu bisa melalui website kami. Buyer juga bisa memesan melalui lapak online di B2B website.

Proses Pembuatan
Gula semut organik adalah pemanis alami yang terbuat dari sari nira kelapa organik (palm) terbaik.  Gula yeng diproses secara alami oleh petani tradisional di Indonesia ini tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya, sehingga aman konsumsi.

Amin menjelaskan, proses pembuatan gula dimulai dari pengambilan sari nira kelapa setiap pagi dan sore. Pengambilan secara rutin ini untuk menjamin kualitas nira yang dihasilkan agar selalu segar dan dalam kondisi terbaik.


Bahan baku nira berasal dari pohon kelapa yang tumbuh endemik di pegunungan wilayah Banyumas, Jawa Tengah. “Kualitas pohon kelapa di daerah kami tidak perlu dikhawatirkan, selain tanah yang relatif subur, petani juga tidak terbiasa menggunakan pupuk atau pestisida berbahaya,” katanya.
Nira kelapa terbaik yang telah diambil dari pohon kelapa kemudian direbus dengan suhu tinggi untuk menghasilkan pasta. Pasta yeng berwarna kecoklatan lalu dikeringkan perlahan dan dikristalisasi dengan cara diaduk. Langkah selanjutnya dimasukkan ke dalam penyaringan.

Gula semut yang telah menjadi setengah kristal kemudian dikeringkan untuk mendapatkan gula kristal dengan kualitas terbaik. Proses pembuatan gula kristal dilanjutkan dengan pengemasan. Gula kristal yang telah kering dimasukkan ke dalam plastik.

Lebih Sehat
Dengan cara budidaya yang alami tersebut Amin yakni akan memberikan jaminan kepada konsumen. Sebab,  produk yang dihasilkan benar-benar alami sejak dari pohon hingga pemrosesan menjadi gula. Karena itu gula semut organik sangat sesuai untuk yang menginginkan pola hidup sehat. Kelebihan gula semut adalah kadar glycemic Indeks rendah, bebas GMO dan bebas gluten.
Amin menjelaskan, gula semut organik ini memiliki indeks glikemik rendah, sehingga bisa menjadi alternatif  pengganti gula tebu yang memiliki indeks glikemik tinggi. Indeks glikemik merupakan ukuran bagaimana makanan yang mempengaruhi kadar glukosa tubuh.

“Makin tinggi nilainya, makin besar gula darah kita akan meningkat setelah makan makanan tersebut. Indeks glikemik nira kelapa berada pada 35 pada indeks glikemik sementara gula lain berkisar 65-100,” katanya.

Kelebihan lain adalah alami. Menurut Amin, gula semut organik yang dihasilkan tidak diproses seperti gula merah dan gula lainnya. Proses dilakukan alami dengan merebus nira bunga pohon kelapa untuk mendapatkan gula terbaik.

Gula semut organik ini juga mengandung mineral dan vitamin yang lebih baik dibanding gula lain. Di antaranya, mineral besi, seng, magnesium, dan kalium. Gula semut organik juga kaya vitamin B, yang penting untuk kesehatan fisik, serta untuk kemampuan mengelola stres. “Gula nira kelapa kaya akan nutrisi lain seperti inositol, yang telah terbukti meningkatkan fungsi mental dalam uji klinis,” ujarnya.

Amin menambahkan, gula semut mengandung enam belas asam amino esensial, seperti glutamin, yang sangat penting dalam sejumlah proses tubuh. Glutamin juga digunakan membuat asam glutamat, yang terlibat dalam kesehatan jantung dan fungsi otak.
Editor : Julianto

Minggu, 11 Agustus 2019


PURWOREJO- Gula kristal organik produksi Koperasi Wanita (Kopwan) Srikandi Purworejo merambah pasar internaional. Australia dan Sri Lanka menjadi tujuan pasar ekspor. Dua kontainer diberangkatkan secara simbolik oleh Kepala Dinkop UKM Provinsi Jateng Dra Ema Rachmawati MHum dan Kepala Dinkump Purworejo Dra Suhartini MM. Hadir pula H Kelik Sumrahadi S Sos MM selaku Pembina Kopwan Srikandi.

"Kami mengirimkan dua kontainer dimana masing-masing kontainer memuat sekitar 10 ton gula semut ke Sydney Australia dan Kolombo Sri Lanka," kata Sri Susilowati.

Dijelaskan Susilowati, awal kiprah Srikandi mengolah gula semut dikarenakan banyaknya potensi lokal Purworejo, utamanya kelapa yang keluar daerah. Dari hasil pengolahan petani dari gula cetak menjadi gula semut telah meningkatkan hasil penjualan petani.  “Sebenarnya gula Purworejo sudah diekspor ke luar negeri, sayangnya melalui Kulonprogo. Maka dari itu, kami berusaha agar hasil lokal kita ya bisa kita yang mengekspor, bukan dari luar," terangnya.

Susilowati menjelaskan bahwa pengirima ke luar negeri sebenarnya bukan kali ini dilakukan. Sebelumnya telah melakukan 7 kali ke beberapa negara yang lain. Hanya karena permintaan dari Menteri Perdaganganlah, kegiatan pelepasan denganmengundang beberapa pihak itu dilakukan.

"Ini sebenarnya bukan ekspor perdana. Sebelumnya kami sudah ekspor enam kontainer masing-masing 17 ton. Alhamdulilah hari ini kontainer yang terakhir pembayarannya sudah masuk. Satu kontainer senilai 35.700 dolar.

Dikatakan, Saat ini pihaknya melibatkan sedikitnya 2.750 petani petani desa di wilayah Kabupaten Purworejo dan Wonosobo. Di tambah 120 petani dari Kabupaten Kebumen, dengan kapasitas 225 ton per bulan. Sehingga nanti jika produksi bertambah 150 ton, margin penambahan nilai yang diterima dari petani sampai dengankoperasi juga akan bertambah banyak.


"Kalau bisa 150 ton saja, margin dari gula cetak sampai ke gula Kristal selisihnya cukupbesar. Sebulan itu bisa lebih dari 1 milyar penambahan nilai yang diterima mulai dari petani sampai dengan koperasi.Yang terpenting, tambah Susilowati, para petani bisa merasakan manfaat atas keberadaan Kopwan Srikandi. Karena keberadaan Kopwan Srikandi Purworejo memang lebih banyak melakukan pemberdayaan masyarakat di perdesaan.“Moto kami adalah agen pemberdayaan masyarakat. Jadi koperasi ini tidak semata-mata sebagai tempat usaha, tetapi banyak memberikan pelatihan bagi pemberdayaan masyarakat,” pungkasnya.

Ditengah membanjirnya koperasi yang bergerak dalam kegiatan simpan pinjam, koperasi yang digawangi kaum wanita ini lebih memilih sektor riil dan produksinya mampu menembus pasar luar negeri. Atas capaian yang dilakukan, Sri Susilowati selaku pengelola koperasi belum lama ini mendapat penghargaan dari Presiden Jokowi dan diserahkan langsung di Jakarta. Bahkan dalam waktu dekat, Kopwan Srikandi akan menerima penghargaan tingkat Asean. Karena mampu meningkatkan ekonomi masyarakat dengan pemberdayaan masyarakat.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jateng Dra Ema Rachmawati MHum mengaku bangga adanya koperasi yang mau bergerak di sektor riil dan berhasil. Koperasi sejenis di Jawa Tengah tidak banyak dan Kopwan Srikandi menjadi salah satunya. Dia berharap, Kopwan Srikandi bisa semakin besar dan menjadi koperasi yang diakui keberadaannya.

“Kesejahteraan anggota adalah hal yang paling penting ketika mendirikan sebuah koperasi. Jangan abaikan itu. Dan terapkan prinsip-prinsip koperasi secara benar. Karenabanyak koperasi yang telah meninggalkan prinsip-prinsip koperasi. Jangan sampai koperasi kehilangan jati dirinya,” ujar Ema.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Perdagangan (DINKUKMP) Dra Suhartini MM mengatakan, keberadaan Koperasi Wanita Srikandi bagaikan oase di tengah termarginalisasinya gerakan koperasi di tanah air oleh kekuatan kapitalisme. Selain bergerak di berbagai bidang usaha seperti gula kelapa kristal dan VCO yang sudah merambah pasar ekspor, Kopwan Srikandi juga memiliki banyak prestasi.Beberapa prestasi yang sudah diraih Koperasi Wanita Srikandi, diantaranya ditunjuk Kementerian Koperasi dan UKM untuk menjadi pilot project koperasi dalam program internasional dengan Korea Selatan. VCO produksi Kopwan Srikandi juga telah masuk dalam gerai perusahaan multinasional Lotte Mart.

"Mudah-mudahan dengan kerja keras dan semangat yang tinggi dari para pengurusnya,maka ekspor perdana gula kelapa kristal organik ini akan terus berlanjut dan meningkat di masa-masa mendatang,” kata Suhartini. (ndi)

Gula Kelapa Indonesia Tembus Pasar Dunia


Air nira yang direbus 4 jam akan menjadi serbuk gula yang kemudian akan dikeringkan hingga menghasilkan gula kelapa kristal atau dikenal dengan gula semut kini kian diminati karena kadar gulanya yang rendah hingga cukup aman dikonsumsi  penderita diabetes. Petani penderes nira di beberapa kabupaten di Jawa yang menjadi binaan PT Mohas telah membuktikan anugerah alam dari daerah tropis ini bisa menjadi komoditas ekspor yang memiliki nilai jual yang tinggi.
Ada gula, ada semut. Manisnya gula kelapa kristal (gula semut) Indonesia makin terasa ke seluruh penjuru dunia. Gula kelapa organik ini sudah diekspor ke Malaysia, Hong Kong, China, Turki, dan Perancis.

"Gula kelapa semakin booming di seluruh dunia. Permintaan sudah mencapai 1.000 ton per bulan. Kami baru bisa memenuhi 200 ton per bulan," kata Direktur Utama PT Mohas Resty Kolaka (Mohas), Restyarto Efiawan.

Rasa manis yang dihasilkan gula kelapa kristal organik jauh lebih sehat karena tidak mengandung bahan pengawet, mencegah diabetes, dan bahkan mengurangi kolesterol dan risiko osteoporosis.

Menurut dia, kenaikan permintaan lebih banyak datang dari kawasan Eropa. Hanya saja, para petani kelapa yang memasok bahan baku masih kesulitan memenuhi persyaratan berupa sertifikat lahan organik.

Mohas mendapat pasokan dari sekitar 100 orang petani penderes binaannya di Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Total produksi mencapai 500 ton perbulan, yang sebagian besar untuk memenuhi permintaan di dalam negeri.

"Ekspor baru sekitar 40% dari total produksi. Harga di dalam negeri sekitar Rp 20.000 perkilogram, sedangkan untuk ekspor US$ 3 perkilogram. Untuk ekspor tingkat kekeringan 1% dan tingkat kelembutan 18%," ujarnya.

Resty menjelaskan, Mohas terus melakukan roadshow ke berbagai kota di pesisir pantai di seluruh Indonesia, seperti Pandeglang, Sukabumi, dan Minahasa, untuk memperkenalkan keuntungan menjadi petani penderes kelapa sekaligus mencari pemasok baru.

Pemerintah diharapkan memberi dukungan dalam proses sertifikasi lahan organik milik petani penderes kelapa. Termasuk, dukungan peralatan mesin yang lebih canggih tidak manual seperti sekarang.

Pemerintah daerah kini juga tengah menggalakkan penanaman bibit kelapa Gajah Entok. Kelapa jenis ini tidak terlalu tinggi sehingga memudahkan petani dalam memanen kelapa sehingga mengurangi risiko kecelakaan bagi penderes.

Kelapa jenis ini lebih cepat berproduksi, sekitar 3-5 tahun dan berbatang pendek. Sehingga mudah dideres dan dapat ditanam dengan jarak tanam yang lebih rapat. Dengan begitu, populasi per satuan luas lebih banyak.

"Kami juga tengah bernegosiasi dengan Coca-Cola. Mereka telah menyatakan minat untuk menggunakan gula kelapa kristal untuk produk mereka yang no sugar. Kalau oke, bisa dibayangkan berapa banyak kenaikan permintaannya," katanya.

Gula kelapa dihasilkan dari air nira kelapa yang direbus selama sekitar 4 jam, kemudian didinginkan dan dihancurkan menjadi serbuk. Selanjutnya, serbuk gula dikeringkan dengan cara dimasukkan ke oven atau dijemur.Sejatinya, air nira ini juga tersedia dalam jumlah yang banyak di Sumatera Utara.Semoga di daerah ini pun bermunculan entrepreneur kreatif yang mampu mengolah sumber-sumber alam yang sedemikian banyak untuk menjadi komoditas ekspor yang bernilai tinggi. (swa.co.id)

Produksi Gula Semut untuk Pasar Luar Negeri Belum Terpenuhi



Purwokertokita.com – Tingginya permintaan pasar luar negeri untuk gula semut sampai saat ini belum terpenuhi. Padahal, gula semut yang tanpa bahan kimia menjadi komoditas yang sangat diminati khususnya di Hongkong, Kanada, Timur Tengah dan Jerman.
Pejabat Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah, Priyo Jatmiko mengatakan, tingginya permintaan pasar luar negeri dikarenakan komunitas luar negeri sudah sangat paham akan manfaat kesehatan dari gula semut.

“Sumber Daya Manusia pelaku usaha gula semut harus ditingkatkan. Karena ada beberapa aspek yang harus dipenuhi sehingga hasil yang ditawarkan mampu bersaing,” katanya, saat mewakili Kepala Disperindag Jawa Tengah pada acara bimbingan teknis bagi pelaku usaha gula semut di eks-Karesidenan Banyumas, Senin (16/7), di Owabong Cottage Bojongsari Purbalingga. 

Menurut Priyo, tingginya permintaan ekspor gula semut juga harus dibarengi dengan standarisasi dari dinas terkait, sehingga produk yang dihasilkan tidak mengecewakan.

Sementara itu, Kepala Dinperindag Kabupaten Purbalingga, Sidik Purwanto menuturkan, pihaknya telah melakukan sertifikasi kepada para pengolah gula dan menganggarkan Rp 600 juta bagi penderes di tujuh kecamatan penghasil gula kelapa.

Dia juga akan berusaha agar gula semut mendapat brand yang mampu bersaing serta melakukan penetrasi pasar dan memfasilitasi modal bagi pelaku usaha gula semut.
“Gula semut atau pun gula kelapa di Purbalingga sudah tidak bisa dipandang sebelah mata. Dari usaha tersebut sudah bisa berkontribusi menyumbang angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Purbalingga sebesar 8%,” pungkasnya. (YS)

Hasil Produksi Gula Semut dari Cilacap Bakal Menyebar di Belanda


Gula semut hasil produksi dari petani kelapa di Desa Karangsari Kecamatan Adipala mulai diekspor ke pasar Belanda. Gula semut siap ekspor seberat 9 ton yang sudah di packing dalam kontainer, dilepas secara simbolik oleh Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji, di Alun-alun Cilacap, Kamis (9/11).

Petani gula semut tersebut merupakan hasil binaan dari Dinas Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Cilacap dan Lembaga Penelitian Pengembangan Sumberdaya, dan Lingkungan Hidup (LPPSLH). Kali ini ekspor gula semut organik langsung kepada buyer di Belanda.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Cilacap, Dian Arinda Murni mengatakan ada sekitar 15 ribu petani penderes di Cilacap, namun yang dibina baru ada sekitar 300 petani. Karena itu, mengingat pasar gula semut yang tinggi, terutama di Eropa dan Amerika, Pemkab Cilacap akan terus memberikan pembinaan kepada petani sehingga bisa memproduksi gula semut.
“Insyaallah pendampingan yang dilakukan petani tidak hanya dilakukan 2015 sampai saat ini, tetapi akan terus dibina sampai semua 15 ribu petani ini bisa membuat gula semut,” katanya.

Untuk kelanjutan dari ekspor ini, Reny, begitu dia disapa mengaku optimis keberlanjutannya. Terutama dengan adanya pendampingan yang akan terus dilakukan maka produksi gula semut untuk ekspor akan terus terpenuhi. 
 
“Yang diekspor baru 9 ton, tapi kami optimis, ke depan akan bertambah. Terutama jika semua petani gula di Cilacap bisa merubah mindsetnya dari gula konvensional ke gula semut,” katanya.
Pasar Gula semut di Eropa dan Amerika, kata dia masih terbuka lebar. Banyak buyer dari luar negeri yang berminat akan gula semut, salah satunya dari Belanda, yang dituju untuk ekspor kemarin. Ekspor gula semut ini melalui ekportir dari Pusat Pengembangan Produk Rakyat (P3R).

Direktur LPPSLH, Bangkit Ari Sasongko mengatakan, selama ini LPPSLH memberikan pendampingan dengan dukungan dari Pemkab Cilacap. Potensi yang dimiliki oleh Cilacap untuk produksi gula semut masih tinggi. Karena masih belum tergarap semua petani penderes yang memproduksi gula semut ini.

“Potensi masih ada 15 ribu petani kelapa, tetapi yang tersertifikasi kurang dari 5.000. Jadi kuota ekspor ini masih bisa ditingkatkan, selama petani ini berkomitmen untuk melaksanakan program pertanian roganik, serta ada dorongan dari Pemda,” katanya.

Meski ada tantangan yang harus dihadapi dalam produksi gula semut ini, dengan menghentikan penggunaan natrium bisulfit, karena dilarang. Solusi dari LPPSLH dalam pendampingan dengan menggunakan cangkang manggis. Selain itu kebersihan pongkor, yang selama ini menggunakan bekas oli. Karena itu, pongkor yang digunakan harus standar dari kontrol union Belanda.

“Yang lebih penting penguatan kelembagaan petani, jika kuat maka keberlangsungannya produk akan terus terjaga,” katanya.

Bupati Cilacap, Tatto Suwarto Pamuji mengatakan akan terus memberikan pendampingan kepada para petani kepala untuk beralih memproduksi gula semut. Pasalnya jika hanya memproduksi gula konvensional saja, maka tidak akan maju. “Harga dari gula semut ini jauh di atas gula biasa, jadi kalau petani hanya produksi gula konvensional, tidak akan maju,” katanya.

Pemkab, kata dia akan mendampingi, menganggarkan, serta memberikan bantuan peralatan untuk prosesing gula organik. Sehingga para petani ini ketika akan mengekspor tidak perlu ke Cilongok terlebih dahulu, tetapi langsung dari Cilacap. Setiap tahunnya pemkab menganggarkan biaya pendampingan mencapai Rp 100 juta. “Pemerintah akan serius sungguh-sungguh untuk ekspor gula semut ke mancanegara,” katanya.
 
Bupati juga berpesan kepada para petani gula semut ini untuk bertindak jujur agar dipercaya oleh para eksportir dari mancanegara. Pasalnya dalan jual beli yang diutamakan adalah kejujuran.

Wariman (44) Ketua Kelompok Karangsari Jaya dari Kecamatan Adipala mengatakan dulu saat memproduksi gula menggunakan sulfit, namun setelah ada pendampingan dilakukan secara organik. Dengan gula organik ini, kata dia haganya jauh diatas gula biasa, selisih Rp 4 ribu per kg.

Saat ini di kelompoknya ada sebanyak 40 orang, yang masing-masing bisa memproduksi gula semut mencapai 4-5 kg perhari. Sehingga dengan adanya launching ekspor ke Belanda ini, dia sebagai perajin gula semut bersam akelompoknya akan lebih semangat untuk memproduksi. “Insyaallah kami siap memenuhi kuota gula semut yang diminta pemerintah,” katanya. (reny tania)

Produksi Gula Semut Angkat Nasib Petani Kelapa di Banyumas

 

BANYUMAS – Di tengah hamparan pohon kelapa yang menjanjikan banyak manfaat dan kemakmuran, nasib para penderes justru terus terpuruk. Hasil kerja keras mereka dihargai dengan sangat murah. Padahal, dengan pengolahan yang sedikit lebih rumit, bisa menghasilkan produksi olahan yang mempunyai daya jual mahal, bahkan menembus pasar ekspor.

Arbi Anugrah, warga Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, tergerak untuk mengangkat ekonomi para penderes. Gula semut atau gula kristal yang diproduksi dari nira kelapa sangat laku di pasaran internasional. Bahkan dalam negeri, juga sudah banyak orang-orang yang paham akan manfaat dan mulai mengkonsumsi untuk kesehatan.

“Saya sangat miris saat melihat gula asli Indonesia yang dibuat oleh para petani gula dengan mempertaruhkan nyawa setiap harinya di atas pohon, tetapi mereka hanya menikmati hasil tak seberapa. Sementara hasil kerja keras mereka sebenarnya bisa diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Bahkan bisa menjaungkau pasar ekspor,สบ tuturnya, Selasa (5/3/2019).

Dilandasi rasa keprihatinan tersebut, Arbi lalu memotori untuk mengolah nira menjadi gula semut. Proses pembuatan hampir sama dengan gula cetak yang selama ini diproduksi petani penderes. Hanya saja alurnya lebih panjang, karena proses pengolahannya harus sampai kadar airnya 0,1 persen.

Setelah mengedukasi para penderes, akhirnya produksi gula semut mulai berjalan. Arbi kemudian mendirikan kelompok tani yang diberi nama Kelompok Tani Gula Kelapa Cikal Mas dan ia didaulat sebagai ketuanya. Setelah produksi  berjalan lancar, dalam perkembangannya muncul ide untuk membuat kemasan lebih menarik dengan nama Legine Gula Semut.

Tidak berhenti sampai disitu, untuk mengenalkan produk gula semut lebih luas, kelompok tani ini melakukan inovasi dengan membuat gula semut berbagai varian rasa, seperti rasa jahe, kunyit, temulawak, kencur dan kayu manis yang pas dilidah masyarakat Indonesia.

“Kita coba mengangkat gula ini dengan aneka rasa selain gula original yang selama ini di ekspor agar lebih mudah diterima oleh lidah masyarakat Indonesia. Pemasaran gula semut varian ini dilakukan melalui toko pusat oleh-oleh yang ada di Kabupaten Banyumas, Purbalingga dan Cilacap, kemudian meluas ke Bandung, Jakarta, Semarang, Padang, Palembang, Medan, Bali. Kita juga memasarkan melalui online,” terangnya.

Ini 6 Strategi Pengembangan Gula Kelapa Banyumas



Bisnis.com, JAKARTA - Kunjungan Pusat Penanganan Isu Strategis (Puspitra) Kemendag ke Kabupaten Banyumas merumuskan enam strategi pengembangan gula kelapa. Kementerian Perdagangan berkomitmen bersama-sama mencari cara meningkatkan kualitas dan nilai tambah gula kelapa.
Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis Kemendag, Ni Made Ayu Marthini mengatakan keenam strategi ini merupakan hasil pertemuan dengan Pemda Banyumas, para petani, dan kelompok tani.
"Inilah sinergi yang dibangun pusat dan daerah. Selanjutnya, Banyumas akan menjadi pilot project komoditas kelapa,” katanya dalam siaran pers Kemendag, Rabu (31/8/2016).
Kunjungan ini berlangsung pada 24-26 Agustus 2016. Pertemuan dilakukan dengan Bupati Banyumas Ahmad Hussein, petani gula kelapa, serta kelompok tani di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.
Kunjungan ke Banyumas ini merupakan tindak lanjut dari beberapa pertemuan, termasuk di antaranya audiensi 20 Kepala Desa se-Kecamatan Cilongok di kantor Kemendag Jakarta, 26 Juli 2016.
Menurut Made, enam strategi pengembangan gula kelapa akan menjadi perhatian bersama.
Pertama, perlunya memperpendek rantai pemasaran gula kelapa agar terdapat margin yang lebih tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Kedua, peningkatan kualitas dan kuantitas melalui sistem budidaya yang baik, antara lain dengan menggunakan pupuk organik.
Ketiga, peremajaan tanaman kelapa dengan bibit kelapa genjah untuk mengurangi risiko kecelakaan saat mengambil nira. Kelapa genjah adalah tanaman kelapa yang batangnya pendek, usia panen cepat, dan produktivitasnya tinggi.
Keempat, pengoptimalisasian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), untuk mengurangi ketergantungan petani gula kelapa terhadap tengkulak, sesuai fungsinya dalam Permendes Nomor 4 Tahun 2016.
Kelima, perlunya komitmen petani untuk menjaga kualitas gula kelapa, termasuk melalui pengolahan dapur komunal.
Terakhir, rencana penetapan Kecamatan Cilongok sebagai pilot project pengembangan gula kelapa melalui program rebranding/packaging produk gula kelapa.
Disambut Baik
Bupati Banyumas Ahmad Hussein memberi perhatian dan berkomitmen mengembangkan gula kelapa ini, terutama untuk tujuan ekspor.
“Kami berkomitmen melakukan pengadaan bibit kelapa genjah untuk menjaga kesinambungan penderes nira. Pemkab Banyumas juga akan mengawasi produksi gula kelapa untuk menjaga kualitasnya. Selain itu, akan dibangun tiga dapur komunal di sentra industri dan memberikan bantuan mesin pengolahan gula semut (gula kelapa kristal) untuk membuat produksi lebih efisien,” kata Ahmad.

Ahmad juga mencanangkan perluasan program kelapa organik. Saat ini dari 1,6 juta pohon kelapa penghasil gula kelapa, baru 80.000 saja yang bersertifikat organik. Bupati Banyumas menargetkan 500.000 pohon kelapa memiliki sertifikat organik melalui kerja sama dengan Kemendag.

Menurut Ahmad, para petani gula kelapa menyambut baik dan mendukung rencana penerbitan Peraturan Bupati tentang Perlindungan Kualitas Gula Kelapa di Banyumas. Hal ini diperlukan untuk mempertahankan nama baik produk gula kelapa di Banyumas, khususnya di Kecamatan Cilongok.
Selain fokus pada pengembangan gula kelapa, dalam kunjungan ini juga dibahas tentang pengembangan beberapa produk unggulan lain di Kabupaten Banyumas. Beberapa produk tersebut di antaranya adalah industri tahu dan keripik pisang.

Kemendag akan berupaya memfasilitasi industri tersebut untuk berkembang sehingga dapat mengolah tahu dan keripik pisang menjadi kuliner yang variatif dan berkualitas, termasuk bergabung dalam program Pangan Nusa.

Irwan, Petani Sekaligus “Peneliti” Gula Kelapa Banyumas

lppslh.or.id –  Irwan, Petani Sekaligus “Peneliti” Gula Kelapa Banyumas. Bagi petani gula kelapa, keberlanjutan mereka hingga saat ini memang seolah di ujung tanduk. Jika mau dibayangkan, 10 atau 20 tahun mendatang, apakah masih ada yang melanjutkan pekerjaan sebagai penderes? Jika tidak, bagaimana dengan produksi gula kelapa di masa depan? Pertanyaan seperti itu lah yang seringkali muncul dibenak petani gula kelapa saat ini. Tak terkecuali Pak Irwan, yang dalam Gula Kelapa Banyumas Kini dan Nanti sudah dikisahkan bagaimana kiprahnya dalam dunia pergulaan di Kabupaten Banyumas.

Pak Irwan, demikian orang-orang memanggilnya. Ia yang bernama asli Azis Irwanto adalah seorang penderes di Desa Rancamaya, Kabupaten Banyumas. Penderes adalah istilah bahasa Jawa yang berarti penyadap nira kelapa. Nira tak lain merupakan bahan baku yang digunakan untuk membuat gula kelapa.

Setiap hari, Pak Irwan menyadap nira sebanyak 2 kali, pagi dan sore. Dalam setiap hari ia menderes pohon kelapa sebanyak 10 pohon. Hasil yang didapatkan dari 10 pohon tersebut, kurang lebih 5 kg gula kelapa per hari.

Pak Irwan memproduksi gula kelapa kristal. Gula kelapa kristal sering juga disebut gula semut atau dalam bahasa Inggris disebut dengan brown sugar atau palm sugar. Gula kelapa jenis ini merupakan diversifikasi dalam produk gula kelapa.

Irwan, Petani Sekaligus “Peneliti” Gula Kelapa Banyumas. Selain pekerjaan sebagai penderes, Pak Irwan juga seorang “peneliti” gula kelapa. Peneliti-peneliti semacam Pak Irwan ini, di jaman dahulu sebetulnya juga ada. Jika anda tahu Ikan Mujahir maka ketahuilah bahwa Muhajir adalah peneliti ikan yang kemudian “menciptakan” ikan jenis tersebut. Atau sebut nama lain Mukibat. Orang yang disematkan dalam Singkong Mukibat adalah nama orang yang menciptakan singkong tersebut.
Kembali ke Pak Irwan, sekarang ini Pak Irwan sedang mempunyai proyek penelitian berupa pembuatan gula kelapa berwarna putih. Lazimnya, gula kelapa adalah berwarna coklat atau kuning tapi kali ini Pak Irwan membuatnya berbeda. Ia membuat gula semut berwarna putih.

Saat ditanya alasan membuat gula semut putih, Pak Irwan mengatakan,” Saya ingin membuat gula kelapa yang jika dituangkan ke teh membuat teh tersebut tidak berubah warna. Jadi, orang yang tidak suka dengan perubahan warna pada teh yang menggunakan gula semut biasa tetap mau mengkonsumsi teh dengan gula semut putih ini.

Sebagai seorang penderes, tentunya ia berharap agar karyanya ini dapat disambut oleh para pembeli. “Saya ingin agar temuan saya ini dapat dibeli oleh pedagang. Tentu saja dengan harga yang lebih baik agar pendapatan saya meningkat,” ujarnya.

Sebelum membuat gula semut berwarna putih, pak Irwan juga pernah melakukan uji coba membuat gula cair. Menurutnya, gula cair tersebut bisa menjadi bahan untuk membuat permen atau menjadi tandingan dari gula cair atau gula rafinasi dalam pembuatan roti. Pada skala yang lebih sederhana, Pak Irwan juga sering melakukan uji coba mencampur bahan-bahan gula semut dengan bahan lain seperti jahe, kunyit, vanila yang kemudian menjadikan gula semut mempunyai banyak varian rasa.

Dalam setiap temuannya, Pak Irwan berharap agar para pedagang bisa membeli produk tersebut sehingga bisa meningkatkan pendapatannya. Dengan meningkatnya pendapatan dari temuan-temuan tersebut maka ia bisa menjadi inspirator bagi penderes lainnya untuk turut mendiversifikasi produk gula kelapa demi peningkatan taraf hidup para penderes.

Jadi, jika kelak anda jalan-jalan toko dan kemudian ada tulisan “Gula Irwan”, tak usah bertanya-tanya lagi,”Kok bisa dinamakan Gula Irwan?”, karena anda sudah tahu jawabanya: gula kelapa tersebut memang dibuat oleh Pak Irwan.
 Ditulis oleh Barid Hardiyanto

Gula Kristal Cilacap Miliki Prospek Bagus



CILACAP, BANGSAONLINE.com - Pengembangan gula kristal di Kabupaten Cilacap, bergantung pada ketersediaan nira kelapa. Hal ini tentu kurang baik, apabila produksi nira menurun saat musim kemarau, atau sebab lainnya. Pemanfaatan nira aren untuk pembuatan gula kristal masih perlu dioptimalkan.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Cilacap, Sujito menjelaskan, saat ini harga jual gula aren kristal cukup menggiurkan. Di kalangan masyarakat, harga jual gula kristal sekitar Rp 16.000 per kilogram. Harga itu jauh di atas harga gula merah biasa yang dihargai sekitar Rp 12 ribu per kilogram. Di sisi lain, produk ini memiliki diferensiasi unik yang berbeda dari produk sejenis di daerah lain, sehingga bisa menjadi ikon Cilacap. 

Sujito menambahkan, saat ini Kabupaten Cilacap memiliki beberapa sentra produksi gula kristal aren, antara lain di Kecamatan Cipari. Di kecamatan tersebut, setidaknya terdapat 20 orang penyadap nira aren, dengan jumlah pohon sadapan lebih dari 100 pohon aren.

Menurut Sujito, inovasi dalam pengembangan gula kristal perlu dilakukan, untuk menciptakan kekhasan produk. Sebab selama ini gula kristal yang diproduksi, kebanyakan berasal dari nira kelapa. Pemasaran produk tersebut saat ini juga telah dikerjasamakan dengan beberapa toko modern. Di sisi lain, promosi produk juga dilakukan melalui beragam kegiatan pameran UKM.(bym1/ns)


NOTE:
Untuk anda yang membutuhkan gula aren kristal dalam jumlah banyak kami siap menyediakannya dengan kapasitas produksi kami mencapai 1 ton per harinya. silahkan hubungi UD SLAMET DADIONO hp/wa 0858 4257 1830 atau surel: slametdadiono.tm@gmail.com

Sabtu, 03 Agustus 2019

Gula Semut Banyumas Tembus Pasar Ekspor



TEMPO.CO, Banyumas – Ketua Kelompok Tani Banyumanggar, Sarwo Edi, tidak kehabisan ide ketika penjualan gula semut di Kabupaten Banyumas sedang lesu. Tiga tahun lalu, dia bersama sekitar 20 orang petani gula semut mencoba untuk mengekspor gula semut melalui PT. Holos Integral Bekasi.

“Bila tidak melakukan inovasi pemasaran kami bisa habis tidak ada penghasilan karena disini kurang begitu laku,” katanya saat ditemui Tempo di rumahnya, Minggu, 8 Januari 2016.

Di Kelurahan Rancamaya, Kecamatan Cilongok, Banyumas, dia membawahi sebanyak 45 petani nira. Setiap petani dalam sehari menyetorkan sebanyak 5 kilogram. Sebelum mulai diekspor, terlebih dahulu gula semut harus lolos sertifikasi dari Control Union, Belanda. “Dari segi bahan harus dari bahan alami dan tidak boleh ada bahan campuran lain,” ujarnya.

Ads by Kiosked
Tidak hanya itu, penanaman pohon kelapa minimal harus berjarak sejauh 200 meter dari sungai dengan ketinggian 700 mdpl. Hal ini dikhawatirkan sungai yang mengandung kotoran dapat terserap oleh batang pohon. Selain itu, dalam perawatannya nira tidak diperbolehkan menggunakan bahan pestisida atau zat kimia lainnya.

“Selain itu, setiap enam bulan sekali tim penguji juga mewawancarai petani dari aktivitas merawat pohon, pengambilan nira, sampai kebersihan dapur untuk dijadikan gula. Bila tidak memenuhi klasifikasi dia akan dicoret,” terangnya.

Kini, jumlah petani nira yang sudah tersertifikasi mencapai sebanyak 400 orang. Jumlah tersebut berasal dari Kelurahan Rancamaya, Gununglurah, Sokawera, Batuanten, dan Tamansari. Dalam seminggu, ujar Edi, petani ditarget menyetorkan sebanyak 8 ton gula semut untuk siap dieskpor. “Harga yang dibayarkan ke petani per-kilogramnya sebesar Rp 16 ribu. Kami berharap dengan begitu dapat meningkatkan pendapatan petani,” katanya.

Edi menambahkan, Sebanyak 95 persen lebih pasokan gula semut yang diperolehnya dari petani, sudah diekspor ke negara Belanda, Selandia Baru, Jepang, dan Amerika Serikat. “Sisanya dijual lokal kalau ada yang pesan,” pungkasnya.